TANJUNGPINANG – Tingginya tarif taksi konvensional di Batam masih jadi pertimbangan utama masyarakat hingga akhirnya lebih memilih untuk menggunakan transportasi online.
Pasalnya harga yang ditawarkan taksi online dengan taksi konvensional berbanding Rp 30 ribu hingga Rp 70 ribu.
Artinya harga tersebut menjadi faktor utama masyarakat jarang menggunakan taksi konvensional.
Menanggapi keluhan masyarakat terhadap tingginya tarif taksi konvensional, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) wilayah Kepri, Syaiful menyarankan kepada pihak taksi konvensional yang mangkal di Bandara Hang Nadim dan Pelabuhan Telaga Punggur Batam agar melakukan evaluasi tarif.
“Dari laporan masyarakat kepada MTI, perbedaan tarif antara taksi konvensional dan taksi online itu bisa Rp 30 ribu sampai Rp 70 ribu,” ujar Syaiful ketika dihungungi, Kamis (18/5/2023).
Menurutnya, perbandingan tarif ini tentu menjadi pertimbangan bagi penumpang dalam memilih transportasi yang akan digunakan.
“Di manapun daerahnya, sifat penumpang itu mencari tarif yang murah, apalagi kendaraannya bagus dan tarifnya jauh lebih murah. Di situlah penumpang rela jalan kaki hingga 2 kilometer. Jangankan penumpang lokal, bahkan turis mancanegara pun rela jalan kaki keluar bandara cari taksi online,” katanya.
Lebih lanjut, pengamat transportasi di Kepri itu menilai, apabila tidak dilakukan evaluasi tarif, dikhawatirkan taksi konvensional kian hari makin kurang peminatnya.
“Sekarang masyarakat di rumah jika ingin pergi tinggal pesan taksi online. Di mal mau pulang pesan taksi online, sedangkan taksi konvensional kan hanya berdiri di bandara atau pelabuhan saja. Lama – lama taksi konvensional bisa digerus,” sebutnya.
Fenomena lainnya, jumlah armada taksi konvensional jauh merosot dibanding sebelum munculnya taksi online.
“Menurut saya, Pemprov Kepri dan Pemko Batam tidak bisa membiarkan hal ini berlarut – larut. Karena dapat merusak pariwisata. Kesannya sangat tidak baik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara,” ungkapnya.
Syaiful berharap sebaiknya dilakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas hal tersebut.
“Memang bandara dan pelabuhan tersebut milik BP Batam. Namun secara administrasi dan keamanan serta kenyamanan masyarakat itu di bawah tanggungjawab pemerintahan provinsi dan Kota Batam. Kita sudah ada forum lalu lintas ini bisa dibawa ke FGD,” tegasnya.
Mahalnya tarif taksi konvensional yang menjadi tanda tanya masyarakat, sering disampaikan kepada Syaiful selaku Ketua MTI wilayah Kepri.
“Persoalan ini cukup dilematis. Di satu sisi harus diakui bahwa taksi konvensional tersebut sudah puluhan tahun melayani jasa angkutan di bandara dan pelabuhan. Mereka taksi konvensional selama ini taat aturan, baik dari segi pengurusan izin angkutan umum sesuai regulasi yang ditetapkan oleh Dinas Perhubungan maupun aturan di lokasi pengelola bandara dan pelabuhan tersebut,” ujarnya. (*)

















