HeadlineLampung RayaPolitik

DPRD Lampung Desak Evaluasi Total RSIA Puri Betik Hati

BANDAR LAMPUNG –  Komisi V DPRD Provinsi Lampung menyoroti serius kasus meninggalnya pasien anak, Abizar Fathan Athallah, yang diduga akibat kelalaian penanganan medis di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Puri Betik Hati, Bandar Lampung

Peristiwa yang terjadi pada Februari 2026 itu memicu desakan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan rumah sakit tersebut. Kasus ini mencuat setelah orang tua korban, Muslim, melaporkan kejadian tersebut ke DPRD Lampung.

Menindaklanjuti laporan itu, Komisi V menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, BPJS Kesehatan Cabang Bandar Lampung, serta manajemen RSIA Puri Betik Hati, Senin (14/4/2026).

Anggota Komisi V DPRD Lampung, Budhi Condrowati, menilai terdapat indikasi kuat keterlambatan penanganan sejak pasien pertama kali masuk hingga akhirnya meninggal dunia. Ia juga menyoroti respons rumah sakit yang dinilai kurang cepat dalam menangani kondisi pasien.

“Pasien dari pagi sudah puasa tapi sampai malam gak ditanyani. Saya lihat ini agak lambat, sebaiknya gak usah ada ego sana sini, kalau memang salah kita bilang salah dengan segala resikonya. Tadi ditanya mbulet sana mbulet sini. Saya tidak menyalahkan, tapi pihak RS kurang cepat,” kata Condro.

Budhi mendesak pihak rumah sakit segera melakukan evaluasi total, termasuk memperbaiki prosedur internal serta menambah tenaga medis spesialis, khususnya dokter bedah dan anestesi.

“Saya lihat kronologinya dari keluarga korban, saya mau nangis bacanya. Tapi kembali lagi saya serahkan kepada ibu. Dokter bedahnya cuma satu itu kurang, dokter anastesinya juga harus ditambah. manajemen RSIA ini harus segera diperbaiki, seandainya ini terjadi kepada keluarga kita bagaimana,” sambungnya.

Sementara itu, Direktur RSIA Puri Betik Hati, dr. Toki Himawati, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan penanganan sesuai prosedur operasional standar (SOP).

Ia menjelaskan, pasien mengalami ileus atau sumbatan usus akibat adanya massa di dalam perut, yang bisa berupa jaringan maupun cairan.

“Kalau jaringan biasanya kami sebut tumor. Namun belum bisa dipastikan karena pasien belum sempat menjalani operasi. Saat akan dilakukan tindakan, kondisi anak justru menurun,” jelasnya.(rm)

Related Posts