BANDAR LAMPUNG – Kelangkaan minyak goreng subsidi program pemerintah Minyakita di sejumlah pasar tradisional di Bandar Lampung mulai menemukan titik terang. Pemerintah daerah mengungkap, terbatasnya stok di pasaran bukan disebabkan gangguan distribusi semata, melainkan karena dialihkan untuk kebutuhan program bantuan pangan nasional.
Kepala Dinas Pangan Kota Bandar Lampung, Ichwan Adji Wibowo, menjelaskan saat ini pasokan Minyakita tengah difokuskan untuk memenuhi paket bantuan pangan periode Februari–Maret yang dijadwalkan disalurkan awal Mei 2026.
“Setiap keluarga penerima manfaat akan mendapatkan dua karung beras masing-masing 10 kilogram, ditambah Minyakita sebanyak 4 liter. Karena diserap ke program itu, stok di pasar menjadi terbatas,” ujarnya, Kamis 23 April 2026.
Lonjakan kebutuhan juga disebut meningkat signifikan. Jika pada 2025 penerima bantuan sekitar 52 ribu keluarga, tahun ini jumlahnya melonjak menjadi 100.624 keluarga penerima manfaat (KPM).
“Artinya hampir naik dua kali lipat. Cakupan penerima juga diperluas hingga desil 5 dan 6,” tambahnya.
Di lapangan, kelangkaan sudah dirasakan pedagang sejak sebulan terakhir. Sejumlah pasar tradisional, termasuk Pasar Gintung, dilaporkan kehabisan stok dari distributor maupun grosir.
Salah satu pedagang sembako, Dodi, mengaku sebelum menghilang dari pasaran, harga Minyakita sempat melampaui harga eceran tertinggi (HET).
“Sudah satu bulan kosong. Sebelumnya kami jual Rp21 ribu sampai Rp22 ribu per liter karena modal dari grosir juga tinggi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Bandar Lampung, Erwin, memastikan pemerintah mulai mengambil langkah penanganan.
Menurutnya, Perum Bulog telah menyalurkan kembali stok secara bertahap ke sejumlah pasar, seperti Pasar Kangkung dan Pasar Tugu.(rm)

















