ARGA MAKMUR – Terindikasi 70 kapal trawl masih melaut di Bengkulu Utara.
Nelayan Bengkulu Utara saat ini kembali melaut mencari ikan.
Meskipun mereka tetap waspada mengantisipasi jangan sampai adanya serangan balik dari nelayan modern Pulau Baai pasca konflik berujung pembakaran kapal di, Air Napal Jumat lalu.
Bahkan saat ini ada lima nelayan asal Pulau Baai yang masih menjalani pemeriksaan di Mapolres BU.
Ketua Asosiasi Nelayan Tradisional Bengkulu (ANTB) wilayah BU Rusman mengaku menyesalkan kelima nelayan tersebut menjaring ikan di wilayah perairan dangkal.
Ia sepakat menyerahkan pada polisi, meskipun ia yakin jika hal tersebut tidak akan menimbulkan efek jera dari nelayan modern lainnya.
“Kami juga menyadari, mereka juga hanya nelayan biasa.
Bahkan mereka bekerja dengan pemilik kapal,” katanya.
Ia berharap pemilik kapal juga bisa dijerat pidana. Hal ini yang mungkin bisa menimbulkan efek jera bagi nelayan lainnya.
Selain itu pemilik kapal juga tidak meminta ABK maupun kapten untuk menjaring menggunakan trawl, apalagi di perairan dangkal.
“Kami berharap pemilik kapal yang bisa dijerat pidana. Kalau pemilik kapal bisa dipidana, ini baru menimbulkan efek jera,” terangnya.
Ia juga menerangkan kemarin nelayan Pasar Palik, Air Napal mulai kembali melaut. Terjadi konflik Jumat lalu karena nelayan Pasar Palik belum melaut.
Sedangkan sudah ada lebih dari 70 kapal di jarak 7 mil dari bibir pantai BU.
“Di jarak 7 mil laut tersebut, sudah ada 70 kapal trawl lebih makanya sempat terjadi kejar-kejaran antara kapal nelayan kami (Tradisional, red) dengan kapal trawl,” terangnya.
Satu kapal yang berhasil diamankan berisi 1 kapten dan empat ABK.
Mereka dibawa ke Desa Pasar Palik dan kini menjalani pemeriksaan di Mapolres BU.
“Nelayan tradisional, hanya bisa maksimal melaut di 10 mil laut dari bibir pantai. Dengan alat tradisional,” pungkas Rusman. (*)

















